Senin, 26 Agustus 2013

Waduk Wadaslintang yg Tersembunyi

Mengisi libur sangat mengasyikan. Kehidupan Kota Semarang yg panas terasa menyesakkan setelah udaranya dihirup setiap hari. Maklum tinggal dan kerja di sini. Dari kehidupan seharian, berangkat dan pulang kerja bisa menyisakan rasa jenuh. Berhari menemui kesibukan dan kepadatan lalulintas tiap pagi berangkat dan pulang kerja makanan rutin yg tak terhindarkan.

Melangkah meninggalkan lewat pintu rumah, menapakkan roda karet di jalan aspal ditambah padatnya lalulalang kendaraan di depan mata bisa memberikan aspek lelah tak kunjung pergi. Anehnya, semua ini hampir dinikmati para pekerja di tiap hari.

Makanya, ketika libur tiba, seakan kuda lepas dari kandang segera ambik ancang melepas lelah menuju daerah desa yg sunyi dan nyaman. Seperti biasa, Kota sejuk Wonosobo jadi tujuan. Mulailah persiapan meninggalkan Semarang disusun rapi.

***

Adalah Wonosobo sebuah Kota Kabupaten yg terapit dua gunung indah G Sindoro dan G Sumbing. Dua mahkota alam ini jadi penghias keindahan yg tiada tara. Apalagi jika menjelang kabut turun dari puncah mengalir indah menuju lereng. Seakan sang raja bangun tidur meluruhkan selimut tebalnya. Betapa indah, sejuk dan menyenengkan. Hingga, puncak keindahan gunung kembar tersembul menawan. Itulah kebesaran Tuhan yg dianugrahkan pada warga Wonosobo yg tak dimiliki daerah lain. Untuk itu, perlu dinikmati dan digali multi aspek yg telah disediakan oleh Yang Maha AWgung  bagi kesejahteraan umatnya. Sayang, anugrah yg luar biasa ini dibiarkan percuma tanpa eksplorasi yg bermanfaat. Ayo, warga Wonosobo memanfaatkan keindahan alamnya untu kemaslahatan bersama. Bangunlah warga Wonosobo untuk kemajuan masyarakatnya.

Liburan kali ini mengeksplorasi arah Selatan Wonosobo, tepatnya daerah perbatasan dengan Banjarnegara. Sebuah daerah yg berimpit yg tak kalah menariknya yg dinamakan WADUK WADASLINTANG.  Sebuah waduk masuk wilayah Wonosobo dan Banjarnegara. Waduk dengan alam terindah -menurut aku- denganb dikelilingi deretan bukit nan pertmai. Waduk ini kalau dibandingkan dengan di Bali, sekelas dengan Bedugul. Bedanya, Bedugul teleh dieksplorasi dengan baik sehingga berhasil menghidupi masyarakat yg ada disekitarnya.

Persoalannya, Waduk Wadaslintang masih terhampar tanpa optimalisasi kemamfaatannya. Walau sudah dimanfaatkan unt keramba apung dan sebagian wisatra air, menurutku belum digali secara optimal. Wisata air baru dimanfaatkan sekian persen dan belum memberi dampak berarti bagi masyarakat Wadaslintang dan sekitarnya.
Gbr Keramba Apung di Wadslintang
Manfaat ekonomi baru sebagian kecil termanfaatkan pada pemilik modal. Seharusnya masih bisa berkembang besar, hanya saja Pemda yg memiliki destinasi ini belum mengembangkan secara optimal.
Gbr Wista air sedang dirintis.

Bandingkan dengan pengelolaan wisata air di Bedugul.
Gbr Wisata Air di Bedugul

Sudah saatnya Pemda yg merasa memiliki WadasLintang membangunkan potensi yg dimiliki dengan melakukan promosi dan menggaet penanam modal unt menggerakan potensi wisata yg ada. Tidak lupa masyarakat sekitar waduk dilibatkan dalam pengelolan obyek wisata ini. Ini berlandas pada visi masyarakat wisata sejahtera seiring bangunnya ekonomi wisata setempat.

***
Dari arah Wonosobo, rombongan menuju arah selatan lewat jalan raya provinsi yg nebuju arah Porwokerto. Sesudah mendekati lampu merah sekitar Banjar-Wonosobo belok kerah kiri menuju  daerah Kaliwiro. Potensi jalan berkelok dengan kiri-kanan menghijau memberi arti indahnya alam asli pegunungan. Jalan yg halus beraspal menambaqh nikmatnya perjalanan dengan mobil yg sehat. Bus besar dan medium bisa melewati jalan ini. Sebeharnya sudah saatnya Wadaslintang dibanjiri pengunjung, tiunggal bagaimana mendatangkan pengunung lewat promosi yg dibutuhkan. Jer Basuki Mowo Bea.
Semoga Wadaslintang bangun dari tidurnya. 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar