Boleh dikatakan, Desa Plobangan merupakan daerah kaya sumber air. Dengan dilewati sebuah sungai cukup lumayan besar air mengalir tiada henti. Diawali dari sumber yg ada di bawah nun jauh di kaki G Sumbing, air itu mengalir deras tanpa henti. Bersih dan bersih seakan bisa untuk mengaca di wajah. Rasanya bening menyejukkan. Tanpa terasa dan disadari sebenarnya kaca itu air pada sealiran sungai.
Tak kalah menariknya, sepanjang hamparan terlihat sawah menghijau. Berpetak kecil tersusun rapi seakan permadani hijau digelar di hadapan mata memandang. Suasana ini bikin mata sejuk dan hati tentram sejenak meniunggalkan kesibukan rutin yg menghadang.
Desa agraris ini menyimpan potensi lumbung padi yg tidak kecil. Sawah menghapar dengan terawat bisa tiga kali panen cukup menghidupi penduduknya. Soal cadangan pangan tak usah diragukan lagi. Hampir sebagian besar punya sawah sendiri-sendiri.
Potensi kolam jua dimiliki di desa ini. Dengan sumber air mengalir deras merupakan wahana yg bagus beternak ikan air tawar. Dalam kebanyakan kolam bisa ditemukan ikan nila, mujair, gurami dan beberapa ikan warna mas yg cantik bisa dikonsumsi mengandung protein hewani yg besar. Dalam sekali tebar, bisan ditunggu 8-9 bulan dipanen. Biasanya dipanen pas mendekati Lebaran. Mengapa, pada saat itu tradisi makan ikan air tawar tumbuh kembali. Bagi yg tidak memiliki kolam jangan kuatir karena bisa memiliki ikan dengan cara membeli. Hal ini dimaklumi, ikan hasil panen takkan habis dimakan sendiri. Ada nilai ekonomi yg tidak kecil beredar di Plobangan ketika memasuki panen ikan air tawar yg hampir bersamaan yg kebanyakan dipenen menjelang hari Raya Lebaran.
Meruntut jalannya waktu, dengan bertambahnya penduduk, sedikit demi sedikit lahan pertanian di desa ini mulai menyusut. Penyusutan disebabkan adanya pembangunan rumah baru oleh keluarga yg baru dibentuk. Beberapa lahan sawah yg tadinya luas sudah berubah sebagian sebagai rumah. Dapat dipastikan pada titik tertentu pengasil lumbung padi ini bisa kehilangan identitasnya.
Kedaan ini terasa oleh Bp Gambang sebagai pengusaha dan enterpreneer lokal yg mengelola usaha penggilingan padi merasa mengalami penyusutan dalam mengelola padi panenan. Untuk melangsungkan usaha penggilingan ini diperlukan ekspansi penebasan padi keluar arena desa yg cukup jauh. Tidak jarang harus pergia jauh hingga 40-50 km hanya untuk mendapatkan gabah satu mobil carry setara volume 15 kuintal. Hal ini terpaksa dilakukan agar usaha penggilingan yg telah dirintis tidak mati suri karena menyusutnya hasil panen di desa sendiri. Pada mulanya panen Desa Plobangan m,emang tidak perlu diragukan. Entah unt masa berikutnya, masihkah ada sisa lahan unt bersawah?
Tak kalah menariknya, sepanjang hamparan terlihat sawah menghijau. Berpetak kecil tersusun rapi seakan permadani hijau digelar di hadapan mata memandang. Suasana ini bikin mata sejuk dan hati tentram sejenak meniunggalkan kesibukan rutin yg menghadang.
Desa agraris ini menyimpan potensi lumbung padi yg tidak kecil. Sawah menghapar dengan terawat bisa tiga kali panen cukup menghidupi penduduknya. Soal cadangan pangan tak usah diragukan lagi. Hampir sebagian besar punya sawah sendiri-sendiri.
Potensi kolam jua dimiliki di desa ini. Dengan sumber air mengalir deras merupakan wahana yg bagus beternak ikan air tawar. Dalam kebanyakan kolam bisa ditemukan ikan nila, mujair, gurami dan beberapa ikan warna mas yg cantik bisa dikonsumsi mengandung protein hewani yg besar. Dalam sekali tebar, bisan ditunggu 8-9 bulan dipanen. Biasanya dipanen pas mendekati Lebaran. Mengapa, pada saat itu tradisi makan ikan air tawar tumbuh kembali. Bagi yg tidak memiliki kolam jangan kuatir karena bisa memiliki ikan dengan cara membeli. Hal ini dimaklumi, ikan hasil panen takkan habis dimakan sendiri. Ada nilai ekonomi yg tidak kecil beredar di Plobangan ketika memasuki panen ikan air tawar yg hampir bersamaan yg kebanyakan dipenen menjelang hari Raya Lebaran.
Meruntut jalannya waktu, dengan bertambahnya penduduk, sedikit demi sedikit lahan pertanian di desa ini mulai menyusut. Penyusutan disebabkan adanya pembangunan rumah baru oleh keluarga yg baru dibentuk. Beberapa lahan sawah yg tadinya luas sudah berubah sebagian sebagai rumah. Dapat dipastikan pada titik tertentu pengasil lumbung padi ini bisa kehilangan identitasnya.
Kedaan ini terasa oleh Bp Gambang sebagai pengusaha dan enterpreneer lokal yg mengelola usaha penggilingan padi merasa mengalami penyusutan dalam mengelola padi panenan. Untuk melangsungkan usaha penggilingan ini diperlukan ekspansi penebasan padi keluar arena desa yg cukup jauh. Tidak jarang harus pergia jauh hingga 40-50 km hanya untuk mendapatkan gabah satu mobil carry setara volume 15 kuintal. Hal ini terpaksa dilakukan agar usaha penggilingan yg telah dirintis tidak mati suri karena menyusutnya hasil panen di desa sendiri. Pada mulanya panen Desa Plobangan m,emang tidak perlu diragukan. Entah unt masa berikutnya, masihkah ada sisa lahan unt bersawah?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar